

Redaksi profesinuklir.org
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan Indonesia bisa saja menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Ia menilai pembangkit listrik tersebut paling murah dan bersih dibandingkan pembangkit lain. "Itu nanti tergantung para pakar. Kalau bisa kita pakai, why not? Nuklir power paling murah sebetulnya, paling bersih juga," ungkap Prabowo dalam diskusi Presiden Prabowo Menjawab (Part 2) lewat YouTube Prabowo Subianto, dikutip pada Senin (23/3). Meski begitu, Prabowo menilai aspek keamanan masih harus dipertimbangkan dalam implementasi PLTN, mengingat banyak pengalaman negara lain yang mengalami kecelakaan operasional. "Tinggal, how can we handle the safety? Itu yang jadi masalah," tegas Prabowo.

Tidak ada industri yang kebal terhadap kecelakaan, tetapi semua industri belajar dari kecelakaan tersebut. Dalam penerbangan sipil, terjadi kecelakaan setiap tahun dan masing-masing dianalisis secara cermat. Pelajaran dari pengalaman hampir seratus tahun berarti bahwa maskapai penerbangan yang bereputasi sangat aman. Dalam industri kimia dan industri minyak dan gas, kecelakaan besar juga menyebabkan peningkatan keselamatan. Ada penerimaan publik yang luas bahwa risiko yang terkait dengan industri-industri ini merupakan pertukaran yang dapat diterima untuk ketergantungan kita pada produk dan layanan mereka. Dengan tenaga nuklir, kepadatan energi yang tinggi membuat potensi bahaya menjadi jelas, dan ini selalu diperhitungkan dalam desain pembangkit listrik tenaga nuklir. Beberapa kecelakaan memang spektakuler dan menjadi berita utama, tetapi dampaknya kecil dalam hal korban jiwa. Nilai kebaruan dan karenanya nilai berita dari kecelakaan tenaga nuklir tetap tinggi dibandingkan dengan kecelakaan industri lainnya, yang relatif sedikit mendapat liputan berita.
Pasar radiofarmaka Indonesia saat ini (2025–2026), belum ada angka resmi yang dipublikasikan mengenai persentase impor secara nasional. Namun, berdasarkan dokumen pemerintah dan kondisi industri, dapat dibuat estimasi yang cukup kuat.
Sekitar periode BATAN (±2015–2020), produksi lokal diperkirakan mampu memenuhi sekitar 20–30% kebutuhan nasional. Bahkan pada tahun 2020 pernah disebutkan bahwa produk impor masih mendominasi hingga lebih dari 90% untuk sejumlah jenis radioisotop dan radiofarmaka.
Kemampuan produksi radiofarmaka Indonesia sangat bergantung pada keberlangsungan operasi Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) sebagai sumber neutron untuk iradiasi target yang kemudian menjadi radio-isotop. Walaupun Indonesia memiliki pengalaman lebih dari 35 tahun dalam produksi radio-isotop, kondisi fasilitas pada 2025–2026 menunjukkan bahwa diperlukan revitalisasi agar mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat.
PT INUKI berperan dalam memproduksi radioisotop secara komersial, sedangkan Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) BATAN berperan dalam pengembangan radioisotop.
| Pengguna | Target Iradiasi | Produk |
|---|---|---|
| INUKI | Te2O3 | I-131 |
| U-235 | Mo-99 | |
| Gd2O3 | Tb-161 | |
| Ni-58 (⁵⁸Ni(n,p)⁵⁸Co) | Co-58 | |
| Co-59 (iradiasi 1-2 tahun) | C0-60 | |
| PTRR | Sm2O3 | Sm-153 |
| Lu2O3 | Lu-177 | |
| MoO3 | Mo-99 | |
| TeO2 | I-131 | |
| G2O3 | Gd-153 | |
| Yb2O3 | Yb-169 | |
| Sulfur | P-32 | |
| AuAl foil | Au-198 | |
| Ir wire | Ir-192 | |
| Y2O3 | Y-90 | |
| Xe | Xe 124 | |
| YbNO3 | Yb-176 | |
| Yb oksida | Yb-176 |
Pasar radiofarmaka Indonesia saat ini (2025–2026), belum ada angka resmi yang dipublikasikan mengenai persentase impor secara nasional. Namun, berdasarkan dokumen pemerintah dan kondisi industri, dapat dibuat estimasi yang cukup kuat.
Sekitar periode BATAN (±2015–2020), produksi lokal diperkirakan mampu memenuhi sekitar 20–30% kebutuhan nasional. Bahkan pada tahun 2020 pernah disebutkan bahwa produk impor masih mendominasi hingga lebih dari 90% untuk sejumlah jenis radioisotop dan radiofarmaka.
Kemampuan produksi radiofarmaka Indonesia sangat bergantung pada keberlangsungan operasi Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) sebagai sumber neutron untuk iradiasi target yang kemudian menjadi radio-isotop. Walaupun Indonesia memiliki pengalaman lebih dari 35 tahun dalam produksi radio-isotop, kondisi fasilitas pada 2025–2026 menunjukkan bahwa diperlukan revitalisasi agar mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat.
PT INUKI berperan dalam memproduksi radioisotop secara komersial, sedangkan Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) BATAN berperan dalam pengembangan radioisotop.
| Pengguna | Target Iradiasi | Produk |
|---|---|---|
| INUKI | Te2O3 | I-131 |
| U-235 | Mo-99 | |
| Gd2O3 | Tb-161 | |
| Ni-58 (⁵⁸Ni(n,p)⁵⁸Co) | Co-58 | |
| Co-59 (iradiasi 1-2 tahun) | C0-60 | |
| PTRR | Sm2O3 | Sm-153 |
| Lu2O3 | Lu-177 | |
| MoO3 | Mo-99 | |
| TeO2 | I-131 | |
| G2O3 | Gd-153 | |
| Yb2O3 | Yb-169 | |
| Sulfur | P-32 | |
| AuAl foil | Au-198 | |
| Ir wire | Ir-192 | |
| Y2O3 | Y-90 | |
| Xe | Xe 124 | |
| YbNO3 | Yb-176 | |
| Yb oksida | Yb-176 |
Fasilitas radiofarmaka di kawasan Serpong secara historis merupakan salah satu yang paling maju di Asia Tenggara dan mencakup:
Namun kondisi saat ini menghadapi beberapa tantangan
a. Infrastruktur yang menua Sebagian besar fasilitas dibangun pada era BATAN sekitar:
Sehingga:
b. Keberlangsungan operasi Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) sebagai sumber neutron untuk iradiasi target:
Jika melihat kondisi keseluruhan, Indonesia saat ini menghadapi tiga tantangan yang saling berkaitan:






Di Kanada, desain IMSR telah:
1. Menyelesaikan Phase 2 Vendor Design Review oleh regulator Kanada (CNSC),
2. Menjadi salah satu desain MSR pertama yang berhasil melewati evaluasi desain tingkat lanjut.
Awal 2026, Terrestrial Energy memperoleh dukungan dari Departemen Energi Amerika Serikat (DOE) melalui Project TETRA dan TEFLA (Fuel Line Pilot Project) untuk mempersiapkan infrastruktur produksi bahan bakar IMSR.
Tujuan proyek ini:
•Membangun reaktor pilot,
•Melakukan pengujian material,
•Memvalidasi operasi IMSR,
•Menghasilkan data untuk mendukung proses lisensi komersial.
TANTANGAN: kesiapan regulasi untuk reaktor generasi IV, kesiapan komunitas riset Indonesia untuk bekerjasama bangun prototype untuk licensing by test/experiments.
Kebijakan pemerintah China untuk memperkuat daya saing global perusahaan kereta api cepat domestik secara eksplisit dinyatakan dalam dokumen resmi negara yang merinci penggunaan perjanjian transfer teknologi sebagai kunci untuk merealisasi sasaran pengembangan teknologi. “China High Speed Train United Action Plan Cooperation Agreement” ditanda-tangani antara "Ministry of Science" (MoS) dan "Ministry of Railways" (MoR) pada 26 Februari 2008 yang berisi kerjasama antara kedua belah pihak sbb.:
MoR juga memobilisasi universitas, pusat penelitian iptek dan perusahaan manufaktur untuk melakukan “locomotive introduction, digestion, absorption and re-innovation program” (People’s Daily, September 5, 2008).
Pada tahun 2003, ketika diputuskan untuk membangun jalur Beijing-Shanghai, diketahui bahwa perusahaan china tidak mampu memenuhi sasaran pengembangan HSR (High Speed Railway). Menurut juru bicara MoR Zhang Shuguang, China memerlukan lebih dari satu dekade untuk setara dengan negara maju karena biaya dan kesulitan untuk pengembangan teknologi domestik.
Sebagai solusi, China memanfaatkan pasar domestik yang besar untuk kebutuhan transfer teknologi dan mencapai sasaran pengembangan kemampuan nasional melalui: digestion, absorption & re-innovation (yinjin xiaohua xishou zai chuangxin) teknologi asing.
Pada 17 juni 2004, MoR mengumumkan lelang pertama untuk pengadaan teknologi kereta api 200 km/jam. Pemerintah menetapkan bahwa economic benefits dari partisipasi asing harus mengutamakan keuntungan bagi ekonomi China bukan bagi ekonomi asing (Xinhua, March 4, 2010) dengan tujuan utama transfer teknologi yang mendukung China dalam pengembangan teknologi.
Kriteria yang ditetapkan MoR meliputi:
Alstom (Perancis), Siemens (Jerman), Bombardier (Kanada) dan konsorsium perusahaan jepang yang dipimpin Kawasaki Heavy Industries mengikuti lelang dari china tsb. Semua harus mengadopsi standard china untuk produk kereta api cepat mereka dan merakit semua unitnya dengan cara joint ventures dengan perusahaan lokal, atau bekerjasama dengan perusahaan manufaktur China atas dasar arahan MoR (People’s Daily, September 5, 2008).