Energi, Industri & Kesehatan

Minggu, 12 Juli 2026
Login | Register

Portal Diskusi Profesi Nuklir

PEMANFAATAN ALAM SEMESTA HARUS BERSAMAAN DENGAN TANGGUNG JAWAB UNTUK MEMELIHARANYA

 

 

Issue Utama

Tantangan Yang Dihadapi Untuk Wujudkan PLTN di Indonesia

Redaksi profesinuklir.org

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan Indonesia bisa saja menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Ia menilai pembangkit listrik tersebut paling murah dan bersih dibandingkan pembangkit lain. "Itu nanti tergantung para pakar. Kalau bisa kita pakai, why not? Nuklir power paling murah sebetulnya, paling bersih juga," ungkap Prabowo dalam diskusi Presiden Prabowo Menjawab (Part 2) lewat YouTube Prabowo Subianto, dikutip pada Senin (23/3). Meski begitu, Prabowo menilai aspek keamanan masih harus dipertimbangkan dalam implementasi PLTN, mengingat banyak pengalaman negara lain yang mengalami kecelakaan operasional. "Tinggal, how can we handle the safety? Itu yang jadi masalah," tegas Prabowo.

Tidak ada industri yang kebal terhadap kecelakaan, tetapi semua industri belajar dari kecelakaan tersebut. Dalam penerbangan sipil, terjadi kecelakaan setiap tahun dan masing-masing dianalisis secara cermat. Pelajaran dari pengalaman hampir seratus tahun berarti bahwa maskapai penerbangan yang bereputasi sangat aman. Dalam industri kimia dan industri minyak dan gas, kecelakaan besar juga menyebabkan peningkatan keselamatan. Ada penerimaan publik yang luas bahwa risiko yang terkait dengan industri-industri ini merupakan pertukaran yang dapat diterima untuk ketergantungan kita pada produk dan layanan mereka. Dengan tenaga nuklir, kepadatan energi yang tinggi membuat potensi bahaya menjadi jelas, dan ini selalu diperhitungkan dalam desain pembangkit listrik tenaga nuklir. Beberapa kecelakaan memang spektakuler dan menjadi berita utama, tetapi dampaknya kecil dalam hal korban jiwa. Nilai kebaruan dan karenanya nilai berita dari kecelakaan tenaga nuklir tetap tinggi dibandingkan dengan kecelakaan industri lainnya, yang relatif sedikit mendapat liputan berita.

Bagaimana Kesiapan Indonesia?
Baca selanjutnya...

Keprihatinan Produksi Radiofarmaka (produk non-cyclotron) dalam negeri 

Pasar radiofarmaka Indonesia saat ini (2025–2026), belum ada angka resmi yang dipublikasikan mengenai persentase impor secara nasional. Namun, berdasarkan dokumen pemerintah dan kondisi industri, dapat dibuat estimasi yang cukup kuat.

Sekitar periode BATAN (±2015–2020), produksi lokal diperkirakan mampu memenuhi sekitar 20–30% kebutuhan nasional. Bahkan pada tahun 2020 pernah disebutkan bahwa produk impor masih mendominasi hingga lebih dari 90% untuk sejumlah jenis radioisotop dan radiofarmaka.

Gambaran kondisi saat ini

Kemampuan produksi radiofarmaka Indonesia sangat bergantung pada keberlangsungan operasi Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) sebagai sumber neutron untuk iradiasi target yang kemudian menjadi radio-isotop. Walaupun Indonesia memiliki pengalaman lebih dari 35 tahun dalam produksi radio-isotop, kondisi fasilitas pada 2025–2026 menunjukkan bahwa diperlukan revitalisasi agar mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat.

Jenis target yang diiradiasi di Reaktor Serba Guna-G.A. Siwabessy Serpong (2015-2020)

PT INUKI berperan dalam memproduksi radioisotop secara komersial, sedangkan Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) BATAN berperan dalam pengembangan radioisotop.

Pengguna Target Iradiasi Produk
INUKI Te2O3 I-131
  U-235 Mo-99
  Gd2O3 Tb-161
  Ni-58 (⁵⁸Ni(n,p)⁵⁸Co) Co-58
  Co-59 (iradiasi 1-2 tahun)  C0-60
PTRR Sm2O3 Sm-153
  Lu2O3 Lu-177
  MoO3 Mo-99
  TeO2 I-131
  G2O3 Gd-153
  Yb2O3 Yb-169
  Sulfur P-32
  AuAl foil Au-198
  Ir wire Ir-192
  Y2O3 Y-90
  Xe Xe 124
  YbNO3 Yb-176
  Yb oksida Yb-176

 

Kondisi fasilitas produksi radiofarmaka saat ini

Baca selanjutnya...