

Redaksi profesinuklir.org
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan Indonesia bisa saja menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Ia menilai pembangkit listrik tersebut paling murah dan bersih dibandingkan pembangkit lain. "Itu nanti tergantung para pakar. Kalau bisa kita pakai, why not? Nuklir power paling murah sebetulnya, paling bersih juga," ungkap Prabowo dalam diskusi Presiden Prabowo Menjawab (Part 2) lewat YouTube Prabowo Subianto, dikutip pada Senin (23/3). Meski begitu, Prabowo menilai aspek keamanan masih harus dipertimbangkan dalam implementasi PLTN, mengingat banyak pengalaman negara lain yang mengalami kecelakaan operasional. "Tinggal, how can we handle the safety? Itu yang jadi masalah," tegas Prabowo.

Tidak ada industri yang kebal terhadap kecelakaan, tetapi semua industri belajar dari kecelakaan tersebut. Dalam penerbangan sipil, terjadi kecelakaan setiap tahun dan masing-masing dianalisis secara cermat. Pelajaran dari pengalaman hampir seratus tahun berarti bahwa maskapai penerbangan yang bereputasi sangat aman. Dalam industri kimia dan industri minyak dan gas, kecelakaan besar juga menyebabkan peningkatan keselamatan. Ada penerimaan publik yang luas bahwa risiko yang terkait dengan industri-industri ini merupakan pertukaran yang dapat diterima untuk ketergantungan kita pada produk dan layanan mereka. Dengan tenaga nuklir, kepadatan energi yang tinggi membuat potensi bahaya menjadi jelas, dan ini selalu diperhitungkan dalam desain pembangkit listrik tenaga nuklir. Beberapa kecelakaan memang spektakuler dan menjadi berita utama, tetapi dampaknya kecil dalam hal korban jiwa. Nilai kebaruan dan karenanya nilai berita dari kecelakaan tenaga nuklir tetap tinggi dibandingkan dengan kecelakaan industri lainnya, yang relatif sedikit mendapat liputan berita.
DISKUSI REVIU KESELAMATAN MSR DAN REGULASI NUKLIR INDONESIA:
Kesiapan regulasi sangat mempengaruhi cepat atau lambatnya penyediaan listrik ataupun process heat (bahang untuk industri proses) dari energi nuklir dengan tingkat keselamatan tinggi di Indonesia. Perkembangan teknologi telah mencapai fitur keselamatan yang berbasis fenomena alam, tidak lagi mengandalkan fitur keselamatan hasil rekayasa (engineered safety features). Wujud perkembangan tersebut berupa beberapa desain pembangkit tenaga nuklir Generasi IV. Desain generasi IV yang saat ini telah merintis perizinan di Indonesia adalah TMSR (Thorium Molten Salt Reactor) yang didesain oleh Thorcon.
Menurut lampiran 1 perka BAPETEN no 3 tahun 2011 tentang KETENTUAN KESELAMATAN DESAIN REAKTOR DAYA, KEJADIAN AWAL TERPOSTULASI (PIE - Postulated Initiating Event) adalah kejadian yang memulai suatu rangkaian kejadian dan yang mengakibatkan:
1. kejadian operasi terantisipasi (AOO - Anticipated Operational Occurrences ),
2. kecelakaan dasar desain (DBA - Design Basis Accident) ,
3. kecelakaan parah (Severe Accident)
Demikian pula menurut IAEA GS-G-4.1 “Format and Content of the Safety Analysis Report for Nuclear Power Plants".
Disebutkan pada Pasal 3 Peraturan Kepala BAPETEN tsb berlaku untuk reaktor daya berpendingin air yang dibangun di daratan.
Namun berdasarkan analisis dan hasil-hasil dari MSRE, accidents scenarios yang telah diidentifikasi konsisten dengan katagori kejadian dalam SAR (Safety Analysis Report) menurut IAEA GS-G-4.1 tersebut.
Mengingat keunggulan keselamatan yang dijanjikan ada dalam MSR, penerapan perka BAPETEN no 3 tahun 2011 perlu dilakukan dengan mekanisme "graded approach".
Implementasi "graded approach" diusulkan dengan cara penerapan "risk informed licensing". Dengan demikian proses grading berbasis pada:
1. Analisis keselamatan,
2. Persyaratan regulasi
3. Pertimbangan perekayasaan (engineering judgement).
Terkait analisis keselamatan, APRONUKI mengusulkan Area Fokus Reviu n0 7 yang berisi langkah-langkah reviu sbb.:
1. Tujuan analisis
2. Analisis ancaman bahaya
3. Analisis keselamatan deterministik
4. Penilaian keselamatan berdasarkan tahapan dalam risk informed design:
4.1. Analisis skenario kecelakaan
4.2. Failure Modes & Effect Analysis (FMEA).
4.3, Analisis deterministik untuk identifikasi failure modes, FMEA dipergunakan sebagai basis untuk pengembangan event tree oleh analis PRA.
4.4. PRA (Probabilistic Risk Assessment) untuk identifikasi failure modes yang dominan
4.5. Penambahan fitur keselamatan untuk mitigasi atau pencegahan failure modes yang dominan
4.6. Langkah 4.3 dan 4.4 diulang hingga memenuhi kriteria keberterimaan desain sistem keselamatan
Terkait dengan analisis ancaman bahaya atau menurut lampiran 1 perka BAPETEN no 3 tahun 2011 dan IAEA GS-G-4.1 disebut sebagai PIE, telah diidentifikasi PIE pada MSR sebagai berikut:
1. Transien operasi abnormal (AOT- abnormal operating transients):
Efisiensi ekstraksi produk fisi yang tidak larut dengan cara helium bubbling, akan berpengaruh terhadap keseimbangan neutron dalam teras dan berpotensi menimbulkan masalah keselamatan, Sirkulasi helium dalam teras akan berpengaruh terhadap reaktivitas (void effect).
2. kecelakaan dasar desain (DBA - Design Basis Accident):
2.1. Kecelakaan peningkatan daya atau RIA (reactivity initiated accident). PIE menurut NRC dan EPRI dalam " Technology Assessment of a Molten Salt Reactor Design " (2015) terkait RIA adalah: Penarikan batang kendali yang tidak disengaja.
2.2. Kecelakaan penurunan aliran (pump trip accident)
2.3. Kecelakaan kebocoran bahan bakar-garam (primary loop break accident)
Selain ke 3 RIA tersebut, APRONUKI mengusulkan juga:
a. Penyumbatan kanal/saluran garam cair
b. Desain mekanisme pendinginan drain tank kurang efisien
Perlu dikaji apakah kejadian berikut relevan untuk ditambahkan sebagai RIA:
a. Hilangnya aliran garam cair pendingin
b. Kegagalan Penukar panas garam cair pendingin intermediate (garam cair yang biasanya untuk transfer bahang dari sinar matahari)
PIE lain yang dapat menyebabkan kerusakan teras MSR menurut NRC dan EPRI dalam “Technology Assessment of a Molten Salt Reactor Design” (2015):
. Kerusakan satu atau lebih tabung grafit (misalnya karena penanganan tabung grafit yang tidak tepat selama perawatan atau inspeksi)
2. Pendinginan garam bahan bakar, yang telah dikeluarkan dari teras, tidak tepat atau tidak memadai
3. Potongan garam yang cair sebagian atau massa padat merusak pemipaan ke tangki pembuangan. misalnya defisiensi desain freeze valve
3. Kecelakaan parah
Source term:
Produksi tritium dan berbagai cara untuk menguranginya dan untuk menjebak tritium di rangkaian primer dan sekunder.
Pada MSRE (MSR eksperimental), diamati bahwa:
(1) gas mulia (misalnya xenon, krypton) akan keluar ke sistem off-gas,
(2) banyak produk fisi (termasuk cesium) membentuk fluorida yang stabil dan secara permanen disimpan dalam garam cair,
(3) logam mulia tertentu dan telurium tidak akan membentuk fluorida ataupun tetap dalam larutan, tetapi menempel pada permukaan rangkaian utama.
MSR memiliki potensi kecelakaan source term kecil karena:
• radionuklida yang diperhitungkan sebagai source term berjumlah sedikit
• Tekanan rendah
• Sistem off-gas secara selektif menghilangkan komponen yang mudah menguap
• Kimia garam membatasi pelepasan radionuklida dalam kondisi kecelakaan reaktor
- Potensi pelepasan yodium rendah
- Potensi pelepasan cesium rendah
Sistem Off-Gas
• radionuklida yang signifikan
- Xenon (dengan panas peluruhan tinggi)
- Krypton
- Lainnya
Gas produk fisi krypton dan xenon memiliki kelarutan yang sangat rendah dalam garam bahan bakar dan secara alami akan keluar.
Dari uraian ringkas di atas tampak pentingnya pendalaman yang melahirkan pedoman bagi vendor atau pemangku kepentingan lainnya.
Referensi: CNSC REGDOC-3-5-4-Pre-Licensing-Review Download PDF